HIPERTENSI PADA KEHAMILAN
A. PENDAHULUAN
Penyakit hipertensi dalam kehamilan adalah komplikasi yang serius
trimester kedua-ketiga dengan gejala klinis seperti: odema hipertensi,
proteinuria, kejang sampai koma dengan umur kehamilan di atas 20 minggu, dan
dapat terjadi antepartum, intrapartum, pascapartus (Cuninghem, 2006).
Penyakit ini merupakan penyebab signifikan morbiditas dan mortalitas
maternal dan janin atau neonatus. Penyakit hipertensi dalam kehamilanmerupakan
kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kahamilan atau timbul dalam kehamilan
atau pada permulaan nifas. Penyakit ini sering dijumpai dan masih
merupakan salah satu kematian ibu. Di U.S.A misalnya 1/3 dari kematian ibu
disebabkan penyakit ini. Laporan tiga tahunan mengenai kematian ibu di Inggris
pada tahun 1997-1999 ( Lewis & Drife 2001 ) mengidentifikasi bahwa gangguan
hipertensi pada kehamilan merupakan penyebab tersering kedua kematian maternal
dengan 5,2 kematian per satu juta ibu yang menderita pre-eklamsi dan 2,4 per
satu juta ibu yang menderita eklamsi. Hipertensi merupakan penyakit medis yang
paling sering terjadi pada kehami
lan, terjadi pada kira-kira 10% dari seluruh kehamilan. Observasi yang
cermat terhadap kondisi ini mengidentifikasi bahwa insiden penyakit hipertensi
bervariasi sesuai dengan lokasi geografis dan ras.
Ganguan hipertensi yang menjadi penyulit dalam kehamilan sering dijumpai
dan termasuk salah satu diantara 3 trias yang mematikan bersama dengan
perdarahan dan infeksi yang banyak menimbulkan mortalitas dan morbiditas ibu
karena kehamilan. Menurut the National Center for Health Statistics pada tahun
1998 penyakit ini ditemukan pada 146.320 wanita,atau 3,7 % diantara semua
kehamilan yang berakhir dengan kelahiran hidup Berg dkk.(1996)melaporkan bahwa
hampir 18 % diantara 1450 kematian di Amerika Serikat dari tahun 1987 sampai
1990 terjadi akibat penyulit hipertensi dalam kehamilan (Cuninghem,2006).
Semua orang yang
mengidap hipertensi hanya satu pertiganya yang mengetahui keadaannya dan hanya
61% medikasi.dari penderita yang mendapat medikasi hanya satu pertiga mencapai
target darah yang optimal (Muhammadun ,2010)
B. MATERI AJAR
A.
Kehamilan Dengan Hipertensi
1) Definisi
Hipertensi
karena kehamilan yaitu : tekanan darah yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg yang
disebabkan karena kehamilan itu sendiri, memiliki potensi yang menyebabkan
gangguan serius pada kehamilan. (Sumber : SANFORD, MD tahun 2006).
Hipertensi
karena kehamilan yaitu : hipertensi yang terjadi karena atau pada saat
kehamilan, dapat mempengaruhi kehamilan itu sendiri biasanya pada usia
kehamilan memasuki 20 minggu. Adapun Beberapa
definisi untuk hipertensi dalam kehamilan adalah sebagai berikut.
a. Hipertensi
gestasional adalah kenaikan tekanan darah yang hanya dijumpai dalam kehamilan
sampai 12 minggu pasca-persalinan, tidak dijumpai keluhan dan tanda-tanda
preeklampsia lainnya. Diagnosis terakhirditegakkan pasca-persalinan
b. Hipertensi
kronis adalah hipertensi yang sudah dijumpai sebelum kehamilan, selama
kehamilan, sampai sesudah masa nifas. Tidak ditemukan adanya keluhan dan
tanda-tanda preeklamsia lainnya.
Superimposed preeklampsia
adalah gejala dan tanda-tanda preeklamsia muncul sesudah kehamilan 20 minggu
pada wanita yang sebelumnya menderita hipertensi kronis.
Preeklamsia ringan, preeklamsia berat, dan eklamsia.
Dahulu disebut PE jika dijumpai trias tanda klinik yaitu: tekanan darah
>140/90 mmHg, proteinuria dan edema. Akan tetapi, sekarang edema tidak lagi
dimasukkan dalam kriteria diagnostik karena edema juga dijumpai pada kehamilan
normal. Pengukuran tekanan darah harus diulang berselang 4jam, tekanan darah
diastole >90 mmHg digunakan sebagai pedoman.
·
Preeklamsia ringan
adalah jika tekanan darah >140/90 mmHg, tetapi <160/110 mmHg dan
proteinuria +1
·
Preeklamsia berat
adalah jika tekanan darah >160/110 mmHg, proteinuria >+2 dapat disertai
keluhan subjektif seperti nyeri epigastrium, sakit kepala, gangguan
pennglihatan dan oliguria.
·
Eklamsia adalah
kelainan akut pada wanita hamil dalam persalinan atau nifas yang ditandai
dengan timbulnya kejang dan/atau koma. Sebelumnya wanita ini menunjukkan
gejala-gejala preeklamsia berat. (Kejang timbul bukan akibat kelainan
neurologis)
2) Patofisiologi
Menurut
Corwin (2001): peringkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan volume
sekuncup/ curah jantung yang bermasalah lama, penoingkatan tekanan perifer
(TPR) yang berlangsung lama.
Penyebab yang pasti tidak diketahui
·
Pada hipertensi
gestasional terjadi vasospasme pembuluh darah perifer yang mengenai setiap
sistem organ (lihat perubahan yang berkaitan dengan hipertensi gestasional.
·
Faktor geografik,
etnik, ras, nutrisi, imunologi dan keluarga dapat turut memeberikan
kontribusinya pada kelainan vaskular yang sudah ada sebelumnya dan kelaianan
ini selanjutnya akan memberikan kontribusi pada kejadian hipertensi
gestasional.
·
Usia juga merupakan salah satu faktor remaja
yang berusia dibawah 19 tahun dan primapara yang berusia diatas 35 tahun
merupakan kelompok yang beresiko tinggi.
3) Menifestasi
Klinis
Gejala
yang biasanya muncul pada ibu yang mengalami hipertensi pada kehamilan harus
diwaspadai jika ibu mengeluh: nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai
mual, ayunan langkah yang tidak mantap, nokturia, oedema dependen dan pembengkakan.
4) Klasifikasi Hipertensi
Kehamilan
yang menyebabkan hipertensi atau hipertensi yang timbul sebagian akibat
kehamilan dan akan menghilang pada masa nifas seperti: Hipertensi tanpa
proteinuri dan oedema, Preeklampsia dengan atau tanpa proteiburi dan oedema,
yaitu Preeklamsia ringan dan Preeklampsia berat, eklampsia, Hipertensi kronis,
Kehamilan yang memperburuk hipertensi, Hipertensi sementara (transient
hypertension).
Untuk
memudahkan dan menyederhanakan The WorkingGroup Report and High Blood
Pressure in Pregnancy (2000) menyarankan klasifikasi hipertensi dalam
kehamilan sebagai berikut.
1. Hipertensi
Gestasional
2. Hipertensi
Kronis
3. Suoerimposed
preeklamsia.
4. Preeklamsia
ringan, preeklamsia berat, dan eklamsia.
Definisi
hipertensi kronis dalam kehamilan adalah adanya penyakit hipertansi yang telah
terjadi sebelum hamil ataupun ditemukan sebelum usia kehamilan 20 minggu atau
hipertansi yang menetap 6 minggu pasca-persalinan, apapun yang menjadi
sebabnya.
Kriteria hipertensi
kronik adallah sebagai berikut.
1. Tekanan
darah 140/90 mmHg sebelum kehamilan atau diagnosis sebelum getasi 20 minggu.
2. Hipertensi
yang pertama kali didiagnosis setelah getasi 20 minggu dan menetap setelah 12
minggu postpartum
5) Pencegahan Penyakit Hipertensi
Pencegahan
kejadian hipertensi secara umum agar mmenghindari tekanan darah tinggi adalah
dengan mengubah kearah gaya hidup sehat, tidak terlalu banyak pikiran, mengatur
diet/pola makan seperti rendah garam, rendah kolesterol dan lemak jenuh,
meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, tidak mengkonsumsi alcohol dan rokok,
perbanyak makan mentimun, belimbing dan juga juice apel dan seledri setiap pagi
bagi yang mempunyai keluarga riwayat penyumbatan arteri dapat meminum juice
yang dicampur dengan susu nonfat yang mengandung omega 3 tinggi.
1. Non-Medis
a. Restriksi
garam: tidak terbukti dapat mencegah terjadinya preeklamsia.
b. Suplementasi
diet yang mengandung hal-hal berikut ini.
·
Minyak ikan yang kaya
dengan asam lemak tidak jenuh, misalnya omega-3 PUFA.
·
Antioksidan: vitamin C,
vitamin E,b-carotene,
CoQ10, N-Acetylcysteine, asam lipotik.
·
Elemen logam berat:
zinc, magnesium, kalsium.
c. Tirah
baring tidak terbukti untuk mencegah terjadinya preeklamsia dan mencegah
persalinan preterm.
2. Medis
a. Diuretika:
tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsia bahkan memperberat hipovolemia.
b. Anti-hipertensi
tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsia.
c.
Kalsium: 1.500-2000
mg/hari
d. Magnesium
365 mg/hari
e.
Zinc: 200 mg/hari
f.
Obat anti-trombotik:
·
Aspirin dosis rendah:
rata-rata dibawah 100 mg/hari. Tidak terbukti mencegah preeklamsia
·
Dipyridamole
obat-obatan antioksidan: vitamin C, Vitamin E, b-carotene, CoQ10, N-Acetylcyteine,
asam lipotik.
·
6) Pengobatan Penyakit Hipertensi
Dilakukannya
pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, pengobatan nonfarmakologik,
mengurangi berat badan bila terdapat terdapat kelebihan (indexs masa tubuh
>27), membatasi alkohol dan menghentikan konsumsi kopi yang berlebih,
berolahraga ringan (jalan-jalan, jogging pagi-pagi), mengurangi asupan natrium
(400 mmd Na/2,4 gram Na/64 NaCL/hari). Memepertahankan asupan kalsium
(buah-buah), tidak banyak pikiran, Istirahat yang cukup.
7) Pengobatan Farmasi
Dianjurkan
minum obat yang tidak banyak efek samping tekanan sederhana, tidak berpengaruh
metabolic negatif dan minum obat yang berfungsi ganda, obat yang berfungsi
ganda adalah obat yang dapat menormalisasikan tekanan darah pada pembuluh
darah, jantung, ginjal, otak dan mata. Berikan obat hipertensi apabila tekanan
darah ibu sudah turun atau sudah tidak 140/90 mmHg. Berikan obat luminal
sesudah makan 30 gram peroral 3 kali sehari dalam jangka waktu 8 jam dari
pemberian sebelumnya.
ETIOLOGI
Semua teori yang
menjelaskan tentang preeklamsia harus dapat menjelaskan pengamatan bahwa
hipertensi pada kehamilan jauh lebih besar kemungkinannya timbul pada wanita
dengan keadaan sebagai berikut.
1. Terpajan
kevillus korion pertamakali
2. Terpajan
kevillus korion dalam jumlah yang sangat besar
3. Sudah
mengidap penyakit vaskular
4. Secara
genetik rentan terhadap hipertensi yang timbul saat hamil
b. Pre eklampsia
1) Definisi
karena
kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi daam triwulan ke 3 pada kehamilan.
Tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa.
Preeaklampsia
adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, proteinura dan oedema yang
kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma, ibu tersebut tidak menunjukkan
tanda-tanda kelainan vascular atau hipertensi sebelumnya.
2) Jenis-jenis Preeklampsia
a) Preeaklampsia Ringan
preeaklampsia
ringan adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau oedema setelah
umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah kehamilan. Gejala ini dapat timbul
sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas. Penyebab ini dianggap
sebagai “maladaptation syndrome” akibat vasospasme general dengan segala
akibatnya.
Gejala
klinis preeklampsia ringan meliputi: (1) kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg
atau lebih, diastole 15 mmHg atau lebih dari tekanan darah sebelum hamil pada
kehamilan 20 minggu atau lebih atau sistol 140 mmHg sampai kurang 160 mmHg,
diastole 90 mmHg sampai kurang 110 mmHg; (2) secara kuantitatif lebih 0,3
gr/liter dalam 24 jam atau secara kualitatif 2( +2); (3) oedema pada pretibia,
dinding abdomen, lumbosakral, wajah atau tangan.
Pemeriksaan
dan diagnosis untuk menunjang keyakinan bidan atas kemungkinan ibu mengalami
preeklampsia ringan jika ditandai dengan: kehamilan lebih 20 minggu; kenaikan
tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih dengan pemeriksaan 2 kali selang 6 jam
dalam keadaan istirahat (untuk pemeriksaan 2 kali setelah istirahat 10 menit);
oedema tekan pada tungkai (pretibia), dinding abdomen, lumbosal, wajah atau
tangan.
a.
perlu pemberian obat
b.
Jika proteinuria
meningkat, kelola sebagai preeklamsia berat.
1.
Jika kehamilan >37
minggu, pertimbangkan terminasi kehamilan (kolaborasi)
2.
Jika sevix matang,
lakukan induksi dengan oksitoksin 5 IU dalam 500 ml Rl/Dektroose 5% IV 10
tetes/menit atau Jika kehamilan <37 minggu dan tidak terdapat perbaikan,
lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan.
c.
Lakukan pemantauan
tekanan darah, proteinuria, refleks, dan kondisi janin setiap minggu.
d.
Lebih banyak istirahat
e.
Diet biasa
f.
Tidak dengan
prostaglandin.
g.
Jika serviks belum
matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter Foley, atau lakukan
terminasi dengan bedah SC.
Penanganan Preeklampsia Ringan dapat dilakukan dua
cara tergantung gejala yang timbul yakni:
(1) Penatalaksaan
rawat jalan pasien preeklampsi ringan, dengan cara: ibu dianjurkan banyak
istirahat (berbaring, tidur/miring), diet: cukup protein, rendah karbohidrat,
lemak dan garam; pemberian sedativa ringan: tablet Phenobarbital 3x30 mg atau
diazepam 3x2 mg peroral selama 7 hari (atas instruksi dokter); roborantia;
kunjungan ulang setiap 1 minggu ; pemeriksaan laboratatorium: hemoglobin,
hemotokrit, trombosit, urin lengkap, asam urat darah, fungsi hati, fungsi
ginjal:
(2) Penatalaksanaan
rawat tinggal pasien preeclampsia ringan berdasarkan kriteria: setelah 2 minggu
pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejala-gejala
preklampsia; kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih perminggu selama 2 kali
berturut-berturut (2 minggu); timbul salah satu atau lebih gejala ata
tanda-tanda preeclampsia berat.
Bila
setelah 1 minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan maka preeklampsia
dianggap sebagai preklampsia berat. Perawatan obstetric pasien preklampsia
ringan :
(1) Kehamilan
preterm (kurang 37 minggu) : bila desakan darah mencapai normotensif selama
perawatan, persalinan ditunggu sampai aterm; bila desakan darah turun tetapi
belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri
pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
(2) Kehamilan
aterm (37 minggu atau lebih) persalinan ditunggu sampai terjadinya onset
persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada teksiran
tanggal persalinan.
(3) Cara
persalinan: persalinan dapat dilakukan secara spontan bila perlu memperpendek
kala II.
b)
Preeklamsia Berat
preeklampsia
berat adalah suatu komplikasi yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110
mmHg atau lebih disertai proteinuria dan/ atau oedema pada kehamilan 20 minggu
atau lebih.
Gejala
dan tanda preeclampsia berat: tekanan darah sistolik > 160 mmHg; tekanan
darah diastolic > 110 mmHg peningkatan kadar enzim hati atau/ dan ikterus;
trombosit < 100.000/mm3; oligura < 400 ml/24 jam; proteinuria > 3
gr/lter; nyeri epigastrium; skotoma dan gangguan visus lain atau nyeri frontal
yang berat; perdarahan retina; oedem pulmonum.
Penyulit
lain juga bisa terjadi, yaitu kerusakan organ-organ tubuh seperti gagal
jantung, gagal ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan pembekuan darah, sindroma
HELLP, bahkan dapat terjadi kematian pada janin, ibu, atau keduanya bila
pre-eklampsia tak segera dibatesi dengan baik dan benar. Perawatan dibagi
menjadi :
(1) perawatan
aktif, sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan
pemeriksaan fetal assessment yakni pemeriksaan nonstress test (NST) dan
Ultrasonografi (USG), dengan indikasi (salah satu atau lebih) yakni:
(a) Ibu:
usia kehamilan 37 minggu atau lebih; adanya tanda-tanda atau gejala impending
eklampsia, kegagalan terapi konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi
terjadi kenaikan desakan darah atau setelah 24 jam perawatan edicinal, ada
gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan).
(b) Janin:
hasil fetal assessment jelek (NST & USG): adanya tanda intra Uterin Growt
Retardation (IUGR).
(c) Hasil
laboratorium: adanya “HELP Syndrome” (hemolisis dan peningkatan fungsi hepar,
trombositopenia).
(2) Pengobatan
medisinal pasien preeclampsia berat (dilakukan di rumah sakit dan atas
instruksi dokter) yaitu: segera masuk rumah sakit, tirah baring miring kesatu
sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, refleks patella setiap jam; Infus
dextrose 5% dimana setiap 1 litter diselingi dengan diselingi dengan infuse RL
(60-125 cc/jam ) 500 cc; berikan Antassida; diet cukup protein, rendah
karbohidrat, lemak dan garam; pemberian obat anti kejang : MgSO4: diuretikum
tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda oedema paru, payah jantung
kongestif atau oedema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg/IM.
(3) Bila
dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya, dapat diberikan obat-obat
antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang
biasa dipakai 5 ampul dalam 500cc cairan infus atau press disesuaikan dengan
tekanan darah.
(4) Bila
tidak tesedia anti hipertensi parental dapat diberikan tablet anti hipertensi
parenteral dapat diberikan tablet anti hipertensi secara sublingual diulang
selang 1 jam, maksimal 4-5 kali. Bersama dengan awal pemberian sublingual maka
obat yang sama mulai diberikan secara oral
(5) Pengobatan
jantung jika ada ada Indikasinya yakni ada tanda-tanda menjurus payah jantung,
diberikan digitalis cepat dengan cedilanid D.
(6) Antihipertensi
diberikan bila: tekanan darah sistolis lebih 180 mmHg, diastolis lebih 110 mmHg
atau MAP lebih 125 mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis kurang 105
mmHg (bukan kurang 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta, dosis
antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada umumnya.
c.
Preeklampsia Berat Pada Persalinan
penanganan
ibu dengan preeclampsia berat pada saat persalinan, dilakukan tindakan
penderitaan dirawat inap antara lain:
(1) Istirahat
mutlak dan ditempatkan dalam kamar isolasi; berikan diet rendah garam, lemak
dan tinggi protein; berikan suntikan MgSO4 8 gr IM, 4 gr dibokong kanan dan 4
gr di bokong kiri; suntikan dapat diulang dengan dosis 4 gr setiap jam; syarat
pemberian MgSO4 adalah refleks patella positif, dluresis 100cc dalam 4 jam
terakhir, respirasi 16x/menit dan harus tersedia antidotumnya yaitu kalsium
glukonas 10% dalam ampul 10cc; Infus dekstros 55% dan Ringer Laktat; berikan
obat anti hipertensi : injeksi katapres 1 ampul 1 mg dan selanjutnya dapat
diberikan tablet katapres 3x1/2 tablet atau 2x1/2 tablet sehari; diuretika
tidak diberikan, kecuali terdapat oedem umum, oedema paru dan kegagalan jantung
kongestif. Untuk itu dapat disuntikkan 1 ampul IV lasix; segera setelah
pemberian MgSO4 kedua, dilakukan induksi partus dengan atau amniotomi. Untuk
induksi dipakai oksitosin 10 satuan dalam infuse tetes (dilakukan oleh bidan
atas intruksi dokter).
(2) Kala
II harus dipersingkat dalam 24 jam dengan ekstrasi vakum atau forceps, jadi ibu
dilarang mengedan (dilakukan oleh dokter ahli kandungan); jangan berikan
methergin postpartum, kecuali bila terjadi pendarahan yang disebabkan atonia
uteri; pemberian MgSO4 kalau tidak ada kontraindikasi, kemudian diterus dengan
dosis 4 gr setiap 4 jam dalam 24 jam postpartum.
(3) Bila
ada indkasi obstetric dilakukan seksio sesarea, perhatikan bahwa: tidak
terdapat koagulopati; Anatesi yang aman atau terpilih adalah anastesi umum
jangan lakukan anastesi local, sedang anastesi spinal berhubungan dengan risiko
(dilakukan oleh dokter ahli kandungan).
(4) Jika
anestesi umum tidak tersedia atau janin mati, aterm terlalu kecil, lakukan
persalinan pervaginaan. Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin
2-5 IU dalam 500 ml dextrose 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin (atas
instruksi dolter boleh diberikan oleh bidan).
d.
Pengobatan obstetric
(1)
Cara Terminasi Kehamilan yang Belum Inpartu
(a) induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan
syarat nilai bishop 5 atau lebih dan dengan fetal heart monitoring.
(b) seksio sesaria (dilakukan oleh dokter ahli
kandungan), bila: fetal assessment jelek. Syarat tetesan oksitosin tidak
dipenuhi (nilai Bishop kurang dari 5) atau adanya kontraindikasi tetesan
oksitisin belum masuk fase aktif. Pada primigravida lebih diarahkan untuk
dilakukan terminasi dengan seksio sesaria.
(2)
Cara terminasi kehamilan yang sudah inpartu
Kala I fase laten: 6 jam belum masuk fase aktif : Amniotomi dan
tetesan oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 3 menit setelah pemberian
pengobatan medicinal. Pada kehamilan 32 minggu atau kurang; bila keadaan
memungkinkan, terminasi ditunda 2 kali 24 jam untuk membeikan kostekoroid.
(3) Perawatan
preaklampsia berat pada Postpartum
Pemberian
anti konvulsan diteruskan sampai 24 jam poetpartum atau kejang terakhir;
teruskan tetapi anti hipertensi jika tekanan diastolic masih > 110 mmHg;
Pantau jumlah urin.
(4) Cara
pemberian MgSO4
(a) Dosis
awal sekitar 4 gr MgSO4 IV (20% dalam 20cc ) selama 1 gr/menit kemasan 20%
dalam 25cc larutan MgSO4 (3-5 menit). Diikuti segera 4 gr dibokong kiri dan 4
gr di bokong kanan (40% dalam 10cc) dengan jarum no 21 panjang 3,7 cm. untuk
mengurangi nyeri dapat diberikan 1 cc xylocain 2% yang tidak mengandung
adrenalin pada suntikan IM.
(b) Dosis
ulangan; diberikan 4 gr IM 40% setelah pemberian dosis awal lalu dosis ulangan
diberikan 4gr IM setiap 6 jam dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari.
(c) Syarat-syarat
pemberian MgSO4: tersedia antibotum MgSO4 yaitu klasium glokanas 10%, 1
gram(10% dalam cc) diberikan intravena dalam 3 menit
(d) MgSO4
dihentikan bila: ada tanda-tanda
keracunan yaitu kelemahan otot, hipotensi, refleks fisiologi menurun, fungsi
hati tergantung, depresi SSP, kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan
kematian karena kelumpuhan dan selajutnya dapat menyebabkan kematian karena ada
serum 10 U magnesium pada dosis adekuat adalah 8-10 mEq/liter. Refleks
fisiologi menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Kadar 12-15 mEq terjadi
kematian jantung.
(e) Bila
timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat; berikan calciumglukosa 10% 1
gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalam waktu 3 menit; berikan oksigen; lakukan
pernapasan buatan.
(f) Magnesium
sulfat dihentikan jugs bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah terjadi
perbaikan (normotensif).
(5) Diagnosis
Diagnosis
dini harus diutamakan bila diinginkan angka morbiditas dan mortalitas rendah
bagi ibu dan anaknya. Walaupun terjadinya preeklampsia sukar dicegah, namun preeklamsia
berat dan eklampsia biasanya dapat dihindarkan dengan mengenal secara dini
penyakit itu dan dengan penanganan secara sempurna.
Pada
umurnya diagnosis preklampsia didasarkan atas adanya 2 dari trias tanda utama:
hipertensi, oedema, proteinuria. Hal ini memang berguna untuk kepentingan
statistik, tetapi dapat merugikan penderita karena tiap tanda dapat merupakan
bahaya kendatipun ditemukan tersendiri.
(6) Deteksi dini
Deteksi
dini didapatkan dari pemerikasaan tekanan darah secara rutin pada saat pemeriksaan
tekanan darah secara rutin pada saat pemeriksaan kehamilan (anatenal care).
Karena itu pemeriksaan kehamilan rutin mutlak dilakukan agar preeklampsia dapat
terdeteksi cepat untuk meminilasir kemungkinan komplikasi yang lebih fatal.
Adapun,
Secara tradisional waktu pemeriksaan
perinatal dijadwalkansetiap 4 minggu sampai usia kehamilan 28 minggu, kemudian
setiap 2 minggu sampai usia kehamilan 36 minggu. Peningkatan kunjungan prenatal
selama trimester terakhir memungkinkan untuk mendeteksi dini preeklamsia.
C. RANGKUMAN
D. Penyakit hipertensi
dalam kehamilan adalah komplikasi yang serius trimester kedua-ketiga dengan
gejala klinis seperti: odema hipertensi, proteinuria, kejang sampai koma dengan
umur kehamilan di atas 20 minggu, dan dapat terjadi antepartum, intrapartum,
pascapartus (Cuninghem, 2006).
Ganguan hipertensi
yang menjadi penyulit dalam kehamilan sering dijumpai dan termasuk salah satu
diantara 3 trias yang mematikan bersama dengan perdarahan dan infeksi yang
banyak menimbulkan mortalitas dan morbiditas ibu karena kehamilan. Menurut the
National Center for Health Statistics pada tahun 1998 penyakit ini ditemukan
pada 146.320 \wanita,atau 3,7 % diantara semua kehamilan
yang berakhir dengan kelahiran hidup Berg dkk.(1996)melaporkan bahwa hampir 18
% diantara 1450 kematian di Amerika Serikat dari tahun 1987 sampai 1990 terjadi
akibat penyulit hipertensi dalam kehamilan (Cuninghem,2006).
Hipertensi karena
kehamilan yaitu : tekanan darah yang lebih tinggi dari 140/90mmHg yang
disebabkan karena kehamilan itu sendiri, memiliki potensi yang menyebabkan
gangguan serius pada kehamilan. (Sumber: SANFORD,MD tahun 2006).
Nilai normal tekanan
darah seseorang yang disesuaikan tingkat aktifitas dan keseatan secara umum
adalah 120/80mmHg. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah
menurun saat tidur dan meningkat saat beraktifitas atau berolahraga
E. EVALUASI
1. Apakah
penyebab terjadinya hipertensi pada kehamilan?
2. Apakah
perbedaan antara hipertensi preeklamsi dan eklamsia ?
3. Apakah
komplikasi dari hepertensi eklamsia dapat di sembuhkan ?
4. Bagaimana
pencegahan agar tidak terkena preeklamsi ?
5. Apakah
preeklamsi memberikan efek pada janin ?
F. REFERENSI
Yeyeh
rukiyah ai,S.Si.T, MKM, Yulianti Lia,Am.keb,MKM. 2010. Asuhan Kebidanan
Patologi Kebidanan, Jakarta ;Trans Info
Media.
Dr.Nugroho
Taufan. 2012. Patologi Kebidanan. Yogyakarta ;Nuha Medika.
Fadlun,
Feryanto Achmad. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta ;Salemba Medika.