Minggu, 15 Januari 2017

HIPERTENSI PADA KEHAMILAN




HIPERTENSI PADA KEHAMILAN

A.      PENDAHULUAN

Penyakit hipertensi dalam kehamilan adalah komplikasi yang serius trimester kedua-ketiga dengan gejala klinis seperti: odema hipertensi, proteinuria, kejang sampai koma dengan umur kehamilan di atas 20 minggu, dan dapat terjadi antepartum, intrapartum, pascapartus (Cuninghem, 2006).
Penyakit ini merupakan penyebab signifikan morbiditas dan mortalitas maternal dan janin atau neonatus. Penyakit hipertensi dalam kehamilanmerupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kahamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan nifas.  Penyakit ini sering dijumpai dan masih merupakan salah satu kematian ibu. Di U.S.A misalnya 1/3 dari kematian ibu disebabkan penyakit ini. Laporan tiga tahunan mengenai kematian ibu di Inggris pada tahun 1997-1999 ( Lewis & Drife 2001 ) mengidentifikasi bahwa gangguan hipertensi pada kehamilan merupakan penyebab tersering kedua kematian maternal dengan 5,2 kematian per satu juta ibu yang menderita pre-eklamsi dan 2,4 per satu juta ibu yang menderita eklamsi. Hipertensi merupakan penyakit medis yang paling sering terjadi pada kehami
lan, terjadi pada kira-kira 10% dari seluruh kehamilan. Observasi yang cermat terhadap kondisi ini mengidentifikasi bahwa insiden penyakit hipertensi bervariasi sesuai dengan lokasi geografis dan ras.
Ganguan hipertensi yang menjadi penyulit dalam kehamilan sering dijumpai dan termasuk salah satu diantara 3 trias yang mematikan bersama dengan perdarahan dan infeksi yang banyak menimbulkan mortalitas dan morbiditas ibu karena kehamilan. Menurut the National Center for Health Statistics pada tahun 1998 penyakit ini ditemukan pada 146.320 wanita,atau 3,7 % diantara semua kehamilan yang berakhir dengan kelahiran hidup Berg dkk.(1996)melaporkan bahwa hampir 18 % diantara 1450 kematian di Amerika Serikat dari tahun 1987 sampai 1990 terjadi akibat penyulit hipertensi dalam kehamilan (Cuninghem,2006).
Semua orang yang mengidap hipertensi hanya satu pertiganya yang mengetahui keadaannya dan hanya 61% medikasi.dari penderita yang mendapat medikasi hanya satu pertiga mencapai target darah yang optimal (Muhammadun ,2010)

B.      MATERI AJAR

A. Kehamilan Dengan Hipertensi
1) Definisi
Hipertensi karena kehamilan yaitu : tekanan darah yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg yang disebabkan karena kehamilan itu sendiri, memiliki potensi yang menyebabkan gangguan serius pada kehamilan. (Sumber : SANFORD, MD tahun 2006).
Hipertensi karena kehamilan yaitu : hipertensi yang terjadi karena atau pada saat kehamilan, dapat mempengaruhi kehamilan itu sendiri biasanya pada usia kehamilan memasuki 20 minggu. Adapun Beberapa  definisi untuk hipertensi dalam kehamilan adalah sebagai berikut.
a.       Hipertensi gestasional adalah kenaikan tekanan darah yang hanya dijumpai dalam kehamilan sampai 12 minggu pasca-persalinan, tidak dijumpai keluhan dan tanda-tanda preeklampsia lainnya. Diagnosis terakhirditegakkan pasca-persalinan
b.       Hipertensi kronis adalah hipertensi yang sudah dijumpai sebelum kehamilan, selama kehamilan, sampai sesudah masa nifas. Tidak ditemukan adanya keluhan dan tanda-tanda preeklamsia lainnya.
Superimposed preeklampsia adalah gejala dan tanda-tanda preeklamsia muncul sesudah kehamilan 20 minggu pada wanita yang sebelumnya menderita hipertensi kronis.
Preeklamsia ringan, preeklamsia berat, dan eklamsia. Dahulu disebut PE jika dijumpai trias tanda klinik yaitu: tekanan darah >140/90 mmHg, proteinuria dan edema. Akan tetapi, sekarang edema tidak lagi dimasukkan dalam kriteria diagnostik karena edema juga dijumpai pada kehamilan normal. Pengukuran tekanan darah harus diulang berselang 4jam, tekanan darah diastole >90 mmHg digunakan sebagai pedoman.
·         Preeklamsia ringan adalah jika tekanan darah >140/90 mmHg, tetapi <160/110 mmHg dan proteinuria +1
·         Preeklamsia berat adalah jika tekanan darah >160/110 mmHg, proteinuria >+2 dapat disertai keluhan subjektif seperti nyeri epigastrium, sakit kepala, gangguan pennglihatan dan oliguria.
·         Eklamsia adalah kelainan akut pada wanita hamil dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang dan/atau koma. Sebelumnya wanita ini menunjukkan gejala-gejala preeklamsia berat. (Kejang timbul bukan akibat kelainan neurologis)
2) Patofisiologi
Menurut Corwin (2001): peringkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan volume sekuncup/ curah jantung yang bermasalah lama, penoingkatan tekanan perifer (TPR) yang berlangsung lama.
Penyebab yang pasti tidak diketahui
·       Pada hipertensi gestasional terjadi vasospasme pembuluh darah perifer yang mengenai setiap sistem organ (lihat perubahan yang berkaitan dengan hipertensi gestasional.
·       Faktor geografik, etnik, ras, nutrisi, imunologi dan keluarga dapat turut memeberikan kontribusinya pada kelainan vaskular yang sudah ada sebelumnya dan kelaianan ini selanjutnya akan memberikan kontribusi pada kejadian hipertensi gestasional.
·          Usia juga merupakan salah satu faktor remaja yang berusia dibawah 19 tahun dan primapara yang berusia diatas 35 tahun merupakan kelompok yang beresiko tinggi.
3) Menifestasi Klinis
Gejala yang biasanya muncul pada ibu yang mengalami hipertensi pada kehamilan harus diwaspadai jika ibu mengeluh: nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual, ayunan langkah yang tidak mantap, nokturia, oedema dependen dan pembengkakan.
4) Klasifikasi Hipertensi
Kehamilan yang menyebabkan hipertensi atau hipertensi yang timbul sebagian akibat kehamilan dan akan menghilang pada masa nifas seperti: Hipertensi tanpa proteinuri dan oedema, Preeklampsia dengan atau tanpa proteiburi dan oedema, yaitu Preeklamsia ringan dan Preeklampsia berat, eklampsia, Hipertensi kronis, Kehamilan yang memperburuk hipertensi, Hipertensi sementara (transient hypertension).
Untuk memudahkan  dan menyederhanakan The WorkingGroup Report and High Blood Pressure in Pregnancy (2000) menyarankan klasifikasi hipertensi dalam kehamilan sebagai berikut.
1.       Hipertensi Gestasional
2.       Hipertensi Kronis
3.       Suoerimposed preeklamsia.
4.       Preeklamsia ringan, preeklamsia berat, dan eklamsia.
Definisi hipertensi kronis dalam kehamilan adalah adanya penyakit hipertansi yang telah terjadi sebelum hamil ataupun ditemukan sebelum usia kehamilan 20 minggu atau hipertansi yang menetap 6 minggu pasca-persalinan, apapun yang menjadi sebabnya.
Kriteria hipertensi kronik adallah sebagai berikut.
1.       Tekanan darah 140/90 mmHg sebelum kehamilan atau diagnosis sebelum getasi 20 minggu.
2.       Hipertensi yang pertama kali didiagnosis setelah getasi 20 minggu dan menetap setelah 12 minggu postpartum
5) Pencegahan Penyakit Hipertensi 
Pencegahan kejadian hipertensi secara umum agar mmenghindari tekanan darah tinggi adalah dengan mengubah kearah gaya hidup sehat, tidak terlalu banyak pikiran, mengatur diet/pola makan seperti rendah garam, rendah kolesterol dan lemak jenuh, meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, tidak mengkonsumsi alcohol dan rokok, perbanyak makan mentimun, belimbing dan juga juice apel dan seledri setiap pagi bagi yang mempunyai keluarga riwayat penyumbatan arteri dapat meminum juice yang dicampur dengan susu nonfat yang mengandung omega 3 tinggi.
1.     Non-Medis
a.     Restriksi garam: tidak terbukti dapat mencegah terjadinya preeklamsia.
b.     Suplementasi diet yang mengandung hal-hal berikut ini.
·       Minyak ikan yang kaya dengan asam lemak tidak jenuh, misalnya omega-3 PUFA.
·       Antioksidan: vitamin C, vitamin E,b-carotene, CoQ10, N-Acetylcysteine, asam lipotik.
·       Elemen logam berat: zinc, magnesium, kalsium.
c.     Tirah baring tidak terbukti untuk mencegah terjadinya preeklamsia dan mencegah persalinan preterm.
2.     Medis
a.       Diuretika: tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsia bahkan memperberat hipovolemia.
b.       Anti-hipertensi tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsia.
c.        Kalsium: 1.500-2000 mg/hari
d.       Magnesium 365 mg/hari
e.        Zinc: 200 mg/hari
f.        Obat anti-trombotik:
·       Aspirin dosis rendah: rata-rata dibawah 100 mg/hari. Tidak terbukti mencegah preeklamsia
·       Dipyridamole obat-obatan antioksidan: vitamin C, Vitamin E, b-carotene, CoQ10, N-Acetylcyteine, asam lipotik.
·        
6) Pengobatan Penyakit Hipertensi
Dilakukannya pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, pengobatan nonfarmakologik, mengurangi berat badan bila terdapat terdapat kelebihan (indexs masa tubuh >27), membatasi alkohol dan menghentikan konsumsi kopi yang berlebih, berolahraga ringan (jalan-jalan, jogging pagi-pagi), mengurangi asupan natrium (400 mmd Na/2,4 gram Na/64 NaCL/hari). Memepertahankan asupan kalsium (buah-buah), tidak banyak pikiran, Istirahat yang cukup.
7) Pengobatan Farmasi
Dianjurkan minum obat yang tidak banyak efek samping tekanan sederhana, tidak berpengaruh metabolic negatif dan minum obat yang berfungsi ganda, obat yang berfungsi ganda adalah obat yang dapat menormalisasikan tekanan darah pada pembuluh darah, jantung, ginjal, otak dan mata. Berikan obat hipertensi apabila tekanan darah ibu sudah turun atau sudah tidak 140/90 mmHg. Berikan obat luminal sesudah makan 30 gram peroral 3 kali sehari dalam jangka waktu 8 jam dari pemberian sebelumnya.
ETIOLOGI
Semua teori yang menjelaskan tentang preeklamsia harus dapat menjelaskan pengamatan bahwa hipertensi pada kehamilan jauh lebih besar kemungkinannya timbul pada wanita dengan keadaan sebagai berikut.
1.       Terpajan kevillus korion pertamakali
2.       Terpajan kevillus korion dalam jumlah yang sangat besar
3.       Sudah mengidap penyakit vaskular
4.       Secara genetik rentan terhadap hipertensi yang timbul saat hamil

b. Pre eklampsia
1) Definisi
karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi daam triwulan ke 3 pada kehamilan. Tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa.
Preeaklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, proteinura dan oedema yang kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma, ibu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan vascular atau hipertensi sebelumnya.
2) Jenis-jenis Preeklampsia
a) Preeaklampsia Ringan
preeaklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau oedema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah kehamilan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas. Penyebab ini dianggap sebagai “maladaptation syndrome” akibat vasospasme general dengan segala akibatnya.
Gejala klinis preeklampsia ringan meliputi: (1) kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg atau lebih, diastole 15 mmHg atau lebih dari tekanan darah sebelum hamil pada kehamilan 20 minggu atau lebih atau sistol 140 mmHg sampai kurang 160 mmHg, diastole 90 mmHg sampai kurang 110 mmHg; (2) secara kuantitatif lebih 0,3 gr/liter dalam 24 jam atau secara kualitatif 2( +2); (3) oedema pada pretibia, dinding abdomen, lumbosakral, wajah atau tangan.
Pemeriksaan dan diagnosis untuk menunjang keyakinan bidan atas kemungkinan ibu mengalami preeklampsia ringan jika ditandai dengan: kehamilan lebih 20 minggu; kenaikan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih dengan pemeriksaan 2 kali selang 6 jam dalam keadaan istirahat (untuk pemeriksaan 2 kali setelah istirahat 10 menit); oedema tekan pada tungkai (pretibia), dinding abdomen, lumbosal, wajah atau tangan.
a.     perlu pemberian obat
b.     Jika proteinuria meningkat, kelola sebagai preeklamsia berat.
1.     Jika kehamilan >37 minggu, pertimbangkan terminasi kehamilan (kolaborasi)
2.     Jika sevix matang, lakukan induksi dengan oksitoksin 5 IU dalam 500 ml Rl/Dektroose 5% IV 10 tetes/menit atau Jika kehamilan <37 minggu dan tidak terdapat perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan.
c.        Lakukan pemantauan tekanan darah, proteinuria, refleks, dan kondisi janin setiap minggu.
d.       Lebih banyak istirahat
e.        Diet biasa
f.        Tidak dengan prostaglandin.
g.        Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter Foley, atau lakukan terminasi dengan bedah SC.
Penanganan Preeklampsia Ringan dapat dilakukan dua cara tergantung gejala yang timbul yakni:
(1)     Penatalaksaan rawat jalan pasien preeklampsi ringan, dengan cara: ibu dianjurkan banyak istirahat (berbaring, tidur/miring), diet: cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam; pemberian sedativa ringan: tablet Phenobarbital 3x30 mg atau diazepam 3x2 mg peroral selama 7 hari (atas instruksi dokter); roborantia; kunjungan ulang setiap 1 minggu ; pemeriksaan laboratatorium: hemoglobin, hemotokrit, trombosit, urin lengkap, asam urat darah, fungsi hati, fungsi ginjal:
(2)     Penatalaksanaan rawat tinggal pasien preeclampsia ringan berdasarkan kriteria: setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejala-gejala preklampsia; kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih perminggu selama 2 kali berturut-berturut (2 minggu); timbul salah satu atau lebih gejala ata tanda-tanda preeclampsia berat.
Bila setelah 1 minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan maka preeklampsia dianggap sebagai preklampsia berat. Perawatan obstetric pasien preklampsia ringan :
(1)     Kehamilan preterm (kurang 37 minggu) : bila desakan darah mencapai normotensif selama perawatan, persalinan ditunggu sampai aterm; bila desakan darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
(2)     Kehamilan aterm (37 minggu atau lebih) persalinan ditunggu sampai terjadinya onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada teksiran tanggal persalinan.
(3)     Cara persalinan: persalinan dapat dilakukan secara spontan bila perlu memperpendek kala II.
b) Preeklamsia Berat
preeklampsia berat adalah suatu komplikasi yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan/ atau oedema pada kehamilan 20 minggu atau lebih.
Gejala dan tanda preeclampsia berat: tekanan darah sistolik > 160 mmHg; tekanan darah diastolic > 110 mmHg peningkatan kadar enzim hati atau/ dan ikterus; trombosit < 100.000/mm3; oligura < 400 ml/24 jam; proteinuria > 3 gr/lter; nyeri epigastrium; skotoma dan gangguan visus lain atau nyeri frontal yang berat; perdarahan retina; oedem pulmonum.
Penyulit lain juga bisa terjadi, yaitu kerusakan organ-organ tubuh seperti gagal jantung, gagal ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan pembekuan darah, sindroma HELLP, bahkan dapat terjadi kematian pada janin, ibu, atau keduanya bila pre-eklampsia tak segera dibatesi dengan baik dan benar. Perawatan dibagi menjadi :
(1)     perawatan aktif, sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assessment yakni pemeriksaan nonstress test (NST) dan Ultrasonografi (USG), dengan indikasi (salah satu atau lebih) yakni:
(a)     Ibu: usia kehamilan 37 minggu atau lebih; adanya tanda-tanda atau gejala impending eklampsia, kegagalan terapi konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan darah atau setelah 24 jam perawatan edicinal, ada gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan).
(b)     Janin: hasil fetal assessment jelek (NST & USG): adanya tanda intra Uterin Growt Retardation (IUGR).
(c)     Hasil laboratorium: adanya “HELP Syndrome” (hemolisis dan peningkatan fungsi hepar, trombositopenia).
(2)     Pengobatan medisinal pasien preeclampsia berat (dilakukan di rumah sakit dan atas instruksi dokter) yaitu: segera masuk rumah sakit, tirah baring miring kesatu sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, refleks patella setiap jam; Infus dextrose 5% dimana setiap 1 litter diselingi dengan diselingi dengan infuse RL (60-125 cc/jam ) 500 cc; berikan Antassida; diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam; pemberian obat anti kejang : MgSO4: diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda oedema paru, payah jantung kongestif atau oedema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg/IM.
(3)     Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya, dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang biasa dipakai 5 ampul dalam 500cc cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan darah.
(4)     Bila tidak tesedia anti hipertensi parental dapat diberikan tablet anti hipertensi parenteral dapat diberikan tablet anti hipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali. Bersama dengan awal pemberian sublingual maka obat yang sama mulai diberikan secara oral
(5)     Pengobatan jantung jika ada ada Indikasinya yakni ada tanda-tanda menjurus payah jantung, diberikan digitalis cepat dengan cedilanid D.
(6)     Antihipertensi diberikan bila: tekanan darah sistolis lebih 180 mmHg, diastolis lebih 110 mmHg atau MAP lebih 125 mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis kurang 105 mmHg (bukan kurang 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta, dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada umumnya.
c. Preeklampsia Berat Pada Persalinan
penanganan ibu dengan preeclampsia berat pada saat persalinan, dilakukan tindakan penderitaan dirawat inap antara lain:
(1)     Istirahat mutlak dan ditempatkan dalam kamar isolasi; berikan diet rendah garam, lemak dan tinggi protein; berikan suntikan MgSO4 8 gr IM, 4 gr dibokong kanan dan 4 gr di bokong kiri; suntikan dapat diulang dengan dosis 4 gr setiap jam; syarat pemberian MgSO4 adalah refleks patella positif, dluresis 100cc dalam 4 jam terakhir, respirasi 16x/menit dan harus tersedia antidotumnya yaitu kalsium glukonas 10% dalam ampul 10cc; Infus dekstros 55% dan Ringer Laktat; berikan obat anti hipertensi : injeksi katapres 1 ampul 1 mg dan selanjutnya dapat diberikan tablet katapres 3x1/2 tablet atau 2x1/2 tablet sehari; diuretika tidak diberikan, kecuali terdapat oedem umum, oedema paru dan kegagalan jantung kongestif. Untuk itu dapat disuntikkan 1 ampul IV lasix; segera setelah pemberian MgSO4 kedua, dilakukan induksi partus dengan atau amniotomi. Untuk induksi dipakai oksitosin 10 satuan dalam infuse tetes (dilakukan oleh bidan atas intruksi dokter).
(2)     Kala II harus dipersingkat dalam 24 jam dengan ekstrasi vakum atau forceps, jadi ibu dilarang mengedan (dilakukan oleh dokter ahli kandungan); jangan berikan methergin postpartum, kecuali bila terjadi pendarahan yang disebabkan atonia uteri; pemberian MgSO4 kalau tidak ada kontraindikasi, kemudian diterus dengan dosis 4 gr setiap 4 jam dalam 24 jam postpartum.
(3)     Bila ada indkasi obstetric dilakukan seksio sesarea, perhatikan bahwa: tidak terdapat koagulopati; Anatesi yang aman atau terpilih adalah anastesi umum jangan lakukan anastesi local, sedang anastesi spinal berhubungan dengan risiko (dilakukan oleh dokter ahli kandungan).
(4)     Jika anestesi umum tidak tersedia atau janin mati, aterm terlalu kecil, lakukan persalinan pervaginaan. Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 2-5 IU dalam 500 ml dextrose 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin (atas instruksi dolter boleh diberikan oleh bidan).
d. Pengobatan obstetric
(1) Cara Terminasi Kehamilan yang Belum Inpartu
(a) induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan syarat nilai bishop 5 atau lebih dan dengan fetal heart monitoring.
(b) seksio sesaria (dilakukan oleh dokter ahli kandungan), bila: fetal assessment jelek. Syarat tetesan oksitosin tidak dipenuhi (nilai Bishop kurang dari 5) atau adanya kontraindikasi tetesan oksitisin belum masuk fase aktif. Pada primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio sesaria.
(2) Cara terminasi kehamilan yang sudah inpartu
Kala I fase laten:  6 jam belum masuk fase aktif : Amniotomi dan tetesan oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 3 menit setelah pemberian pengobatan medicinal. Pada kehamilan 32 minggu atau kurang; bila keadaan memungkinkan, terminasi ditunda 2 kali 24 jam untuk membeikan kostekoroid.
(3)     Perawatan preaklampsia berat pada Postpartum
Pemberian anti konvulsan diteruskan sampai 24 jam poetpartum atau kejang terakhir; teruskan tetapi anti hipertensi jika tekanan diastolic masih > 110 mmHg; Pantau jumlah urin.
(4)     Cara pemberian MgSO4
(a)     Dosis awal sekitar 4 gr MgSO4 IV (20% dalam 20cc ) selama 1 gr/menit kemasan 20% dalam 25cc larutan MgSO4 (3-5 menit). Diikuti segera 4 gr dibokong kiri dan 4 gr di bokong kanan (40% dalam 10cc) dengan jarum no 21 panjang 3,7 cm. untuk mengurangi nyeri dapat diberikan 1 cc xylocain 2% yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan IM.
(b)     Dosis ulangan; diberikan 4 gr IM 40% setelah pemberian dosis awal lalu dosis ulangan diberikan 4gr IM setiap 6 jam dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari.
(c)     Syarat-syarat pemberian MgSO4: tersedia antibotum MgSO4 yaitu klasium glokanas 10%, 1 gram(10% dalam cc) diberikan intravena dalam 3 menit
(d)     MgSO4 dihentikan bila:  ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, hipotensi, refleks fisiologi menurun, fungsi hati tergantung, depresi SSP, kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan dan selajutnya dapat menyebabkan kematian karena ada serum 10 U magnesium pada dosis adekuat adalah 8-10 mEq/liter. Refleks fisiologi menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Kadar 12-15 mEq terjadi kematian jantung.
(e)     Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat; berikan calciumglukosa 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalam waktu 3 menit; berikan oksigen; lakukan pernapasan buatan.
(f)      Magnesium sulfat dihentikan jugs bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah terjadi perbaikan (normotensif).
(5)     Diagnosis
Diagnosis dini harus diutamakan bila diinginkan angka morbiditas dan mortalitas rendah bagi ibu dan anaknya. Walaupun terjadinya preeklampsia sukar dicegah, namun preeklamsia berat dan eklampsia biasanya dapat dihindarkan dengan mengenal secara dini penyakit itu dan dengan penanganan secara sempurna.
Pada umurnya diagnosis preklampsia didasarkan atas adanya 2 dari trias tanda utama: hipertensi, oedema, proteinuria. Hal ini memang berguna untuk kepentingan statistik, tetapi dapat merugikan penderita karena tiap tanda dapat merupakan bahaya kendatipun ditemukan tersendiri.
(6)      Deteksi dini
Deteksi dini didapatkan dari pemerikasaan tekanan darah secara rutin pada saat pemeriksaan tekanan darah secara rutin pada saat pemeriksaan kehamilan (anatenal care). Karena itu pemeriksaan kehamilan rutin mutlak dilakukan agar preeklampsia dapat terdeteksi cepat untuk meminilasir kemungkinan komplikasi yang lebih fatal.
Adapun, Secara tradisional waktu pemeriksaan perinatal dijadwalkansetiap 4 minggu sampai usia kehamilan 28 minggu, kemudian setiap 2 minggu sampai usia kehamilan 36 minggu. Peningkatan kunjungan prenatal selama trimester terakhir memungkinkan untuk mendeteksi dini preeklamsia.
  

C.      RANGKUMAN
D.    Penyakit hipertensi dalam kehamilan adalah komplikasi yang serius trimester kedua-ketiga dengan gejala klinis seperti: odema hipertensi, proteinuria, kejang sampai koma dengan umur kehamilan di atas 20 minggu, dan dapat terjadi antepartum, intrapartum, pascapartus (Cuninghem, 2006).
Ganguan hipertensi yang menjadi penyulit dalam kehamilan sering dijumpai dan termasuk salah satu diantara 3 trias yang mematikan bersama dengan perdarahan dan infeksi yang banyak menimbulkan mortalitas dan morbiditas ibu karena kehamilan. Menurut the National Center for Health Statistics pada tahun 1998 penyakit ini ditemukan pada 146.320 \wanita,atau 3,7 % diantara semua kehamilan yang berakhir dengan kelahiran hidup Berg dkk.(1996)melaporkan bahwa hampir 18 % diantara 1450 kematian di Amerika Serikat dari tahun 1987 sampai 1990 terjadi akibat penyulit hipertensi dalam kehamilan (Cuninghem,2006).
Hipertensi karena kehamilan yaitu : tekanan darah yang lebih tinggi dari 140/90mmHg yang disebabkan karena kehamilan itu sendiri, memiliki potensi yang menyebabkan gangguan serius pada kehamilan. (Sumber: SANFORD,MD tahun 2006).
Nilai normal tekanan darah seseorang yang disesuaikan tingkat aktifitas dan keseatan secara umum adalah 120/80mmHg. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan  tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat saat beraktifitas atau berolahraga 

E.       EVALUASI

1.       Apakah penyebab terjadinya hipertensi pada kehamilan?
2.       Apakah perbedaan antara hipertensi preeklamsi dan eklamsia ?
3.       Apakah komplikasi dari hepertensi eklamsia dapat di sembuhkan ?
4.       Bagaimana pencegahan agar tidak terkena preeklamsi ?
5.       Apakah preeklamsi memberikan efek pada janin ?

F.       REFERENSI
                Yeyeh rukiyah ai,S.Si.T, MKM, Yulianti Lia,Am.keb,MKM. 2010. Asuhan                           Kebidanan Patologi Kebidanan, Jakarta ;Trans Info Media.
                Dr.Nugroho Taufan. 2012. Patologi Kebidanan. Yogyakarta ;Nuha Medika.
                Fadlun, Feryanto Achmad. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta ;Salemba           Medika.