Rabu, 11 Januari 2017

ASMA BRONCHIAL PADA KEHAMILAN



ASMA BRONCHIAL PADA KEHAMILAN

A.      PENDAHULUAN
B.      Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi yaitu sebesar 420 per 100.000 kelahiran hidup, rasio tersebut sangat tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya (Mauldin, 1994). Langkah utama yang paling penting untuk menurunkan angka kematian ibu adalah mengetahui penyebab utama kematian. Penyakit asma terdapat 3,4 – 8,4 % pada wanita hamil dan gangguan nafas sangat sering terjadi pada wanita hamil(sity.2013).  Pada umumnya penyakit paru-paru tidak banyak mempengaruhi jalannya kehamilan, persalinan dan nifas kecuali jika penyakitnya berat atau proses penyakitnya luas sehingga disertai hipoksia. Asma bronkial merupakan penyakit paru-paru yang paling sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. Biasanya kehamilan tidak mempengaruhi asma bronkial akan tetapi serangan asma dapat timbul akibat kehamilan atau penyakitnya berkurang atau bahkan bertambah.                                                                        Penderita asma selama kehamilan perlu mendapatkan perawatan yang baik untuk mengurangi timbulnya serangan asma saat kehamilan. Oleh karena itu, Peran Bidan sangat diperlukan dalam memberikan penanganan, seperti health education kepada penderita untuk mencegah timbulnya stress, menghindari faktor-faktor pencetus timbulnya asma seperti zat-zat alergi, infeksi saluran napas, dan faktor psikis, serta edukasi tentang pengaruh obat-obat asma pada kehamilan.  Ibu hamil dengan serangan AB yang berat merupakan suatu problema yang serius dengan angka abortus partus prematurus serta angka kematian ibu dan bayi yang meningkat. Oleh karena itu, makalah ini dibuat untuk memberikan informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Asma Bronkiale pada kehamilan yang tujuan nya agar mahasiswa kebidanan dapat mengetahui dan menambah ilmu pengetahuannya yang kelak bisa ia gunakan saat menjadi seorang bidan sehingga mampu mengurangi angka abortus, partus prematur serta angka kematian ibu dan bayi yang meningkat akibat asma bronkiale yang menyerang ibu hamil.

C.      MATERI AJAR

1.Definisi
Kata Asma (Asthma) merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “terengah-engah” atau “sulit bernapas”. Lebih dari 2000 tahun lalu, Hippocrates menggunakan kata Asma untuk menggambarkan sesak napas yang episodik/berulang. Asma adalah penyakit paru kronis yang melibatkan berbagai varietas immune sistem cell, yang menyebabkan timbulnya respon bronkus berupa wheezing, dyspne, batuk, dan dada terasa berat(Anonimous. 2007).Asma dalam kehamilan adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas terutama sel mast dan eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk yang ditemukan pada wanita hamil.   Asmabronkial merupakan masalah kesehatan yang serius pada ibu hamil dan pada saat persalinan. Asma bronkial adalah sindroma yang kompleks dengan berbagai tipe klinis. Pada asma bronkial terdapat penyempitan saluran pernafasan yang disebabkan oleh spasme otot polos saluran nafas, edema mukosa dan adanya hipersekresi yang kental. Penyempitan ini akan menyebabkan gangguan ventilasi (hipoventilasi), distribusi ventilasi tidak merata dalam sirkulasi darah pulmonal dan gangguan difusi gas ditingkat alveoli, akhirnya akan berkembang menjadi hipoksemia, hiperkapnia dan asidosis pada tingkat lanjut.
Gambar 1. Penampang saluran nafas pada keadaan normal dan pada asma bronkial                     
2. Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial.            
                              
a.FaktorpredisposisiGenetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahuibagaimanacarapenurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alerg      biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena     adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitaluran pernafasannya juga bisa diturunkan.                  
                
b.  Faktor presipitasi                                                                           
 Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :                
1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan, ex: debu, bulu binatang serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi               
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut, ex: makanan dan obat-obata                       
3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit, ex: perhiasan, logam dan jam tangan                                                            
             Perubahan Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering  mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin  merupakan faktor pemicu terjadinya serangan   asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti:     musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itujuga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalamistress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah Lingkungan kerja.  Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal   ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini  membaik pada waktu libur atau cuti
                  Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat  Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan  aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah   menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya   terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.Penyakit ini dapat disebabkan oleh faktor genetik, faktor lingkungan (virus, alergen, paparan bahan kerja, zat-zat alergi, infeksi saluran nafas, maupun pengaruh udara) dan factor psikis.                
 
3. Langkah penanganan asma pada kehamilan
Sebelum kehamilan
·        Konseling mengenai pengaruh kahamilan dan asma, serta pengobatan.
·        Penyesuaian terapi maintenance untuk optimalisasi fungsi respirasi, Hindari factor pencetus, alergen,
·         Rujukan dini pada pemeriksaan antenatal.
Selama kehamilan
·       Penyesuaian terapi untuk mengatasi gejala.
·       pemantauan kadar teofilkin dalam darah, karena selama hamil terjadi hemodilusi sehingga memerlukan dosis yang lebih tinggi.
·       Pengobatan untuk mencegah serangan dan penanganan dini bila terjadi serangan.
·       Pemberian obat sebaiknya inhalasi, untuk menghindari efek sistemik pada janin.
·       Pemeriksaan fungsi paru ibu.
Pada pasien yang stabil, NST dilakukan pada akhir trimester II/awal, Trimester III.
·        Konsultasi anestesi untuk persiapan persalinan.
Saat persalinan
·        Pemeriksaan FEV1, PEFR saat masuk rumah sakit dan diulang bila timbul gejala.
·        Pemberian oksigen adekuat.
·        Kortikosteroid sistemik (hidrokortison 100 mg i.v. tiap 8 jam) diberikan 4 minggu sebelum persalinan dan terapi maintenance diberikan selama persalinan.
·        Anestesi epidural dapat digunakan selama proses persalinan.
·        Pada persalinan operatif lebih baik digunakan anestesi regional untuk menghindari rangsangan pada intubasi trakea. Penanganan hemoragi
·        pascapersalinan sebaiknya menggunakan uterotonika atau PGE2 karena
·        PGE dapat merangsang bronkospasme.
Pasca persalian
·       Fisioterapi untuk membantu pengeluaran mucus paru, latihan pernapasan
·       untuk mencegh atau meminimalisasi atelektasis, mnulai pemberian terapi 37 maintenance.
·       Pemberian ASI tidak merupakan kontraindikasi meskipun ibu mendapa obat antiasma termasuk prednisone.

4. Pengaruh Asma Bronkial  Terhadap Kehamilan
Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan, karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen (hipoksia). Keadaan hipoksia bila tidak segera ditangani tentu akan berpengaruh pada janin, dan sering terjadi keguguran, persalinan prematur atau berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan(Hanifa Wiknjosastro, 1976). Pada seorang wanita hamil terdapat perubahan-perubahan fisiologis pada beberapa organ-organ tubuh wanita tersebut akibat kehamilannya. Perubahan-perubahan fisiologis yang diketahui berpengaruh terhadap perjalanan AB antara lain perubahan-perubahan berupa membesarnya uterus, elevasi diafragma, hormonal perubahan-perubahan pada mekanik paru-paru dan lain-lain.Pada ibu-ibu hamil yang menderita AB, Bahna dan Bjerkedal mendapatkan bahwa insiden hiperemis, perdarahan, toksemia gravidarum, induksi persalinan dengan komplikasi dan kematian ibu secara bermakna lebih sering terjadi dibandingkan dengan ibu-ibu hamil tanpa penyakit AB. 

5. Pengaruh Obat-obatan Anti Asma Terhadap Kehamilan
·         Golongan Xanthin                                                                                                                                                             Golongan yang biasanya dipakai adalah aminofilin dan teofilin. Pada dosis terapeutik tidak terbukti bahwa obat-obat ini berbahaya pada ibu atau janin bahkan pada beberapa penelitian dapat ditunjukkan adanya penurunan yang bermakna dari pada insidens respiratory distress syndrome pada bayi-bayi dari ibu yang mendapat aminoflin dibandingkan dengan yang tidak.
·         Golongan simptomatik                                     
Obat-obatan dari golongan ini adalah adrenalin, efedrin, isoprenalin, terbutalin, salbutamol, orsiprenalin dan sebagainya. Obat-obat ini bekerja sebagai anti asma melalui perangsangan terhadap reseptor simpatis. Adrenali Selain merangsang reseptor B1 dan B2 juga merangsang reseptor A, sehingga selain merangsang bronkus, obat ini pula merangsang jantung, pembuluh darah dan lain-lain. Untuk mencegah efek samping, maka dianjurkan untuk mempergunakan dosis terkecil yang masih memberikan dilatasi bronkus yang optimal.
·        
         Efedrin                                                                                                                                                              Farmakodinamik efedrin mirip adrenalin, Pada kasus-kasus dengan kehamilan, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa obat ini mengganggu kehamilan sehingga digolongkan aman untuk dipakai.
·         Sodium Kromoglika                                                                                                                                                                   Obat ini tidak menyebabkan kelainan pada janin ataupun ibu, sehingga nampaknya tidaklah berbahaya. Namun demikian pemakaian pada ibu-ibu hamil datanya belum cukup banyak.
6. Pengaruh obat-obat pertolongan persalinan terhadap asma bronkial          
Beberapa jenis obat-obatan yang sering dipergunakan di dalam pertolongan persalinan secara farmakologis mempunyai potensi untuk mempengaruhi perjalanan AB.
·         
           Prostaglandin
Prostaglandin F2alfa dan E2 juga mempunyai efek sebagai bronkokonstriktor sehingga berakibat meningkatkan pulmonary resistance, sehingga memperberat Asma, oleh karena itu pemakaian obat ini pada penderita AB akan berbahaya sehingga patut dihindari.
·         Obat-obat anestesi                                                                                                                                                                  Nitrous oksid dan halotan mempunyai efek bronkolitik sehingga dalam hal ini obat tersebut merupakan obat-obat pilihan. Disamping itu anestesi epidural, saddle block, pudendal bock ataupun anestesi lokal dapat digolongkan sebagai cara anestesi yang aman untuk penderita-penderita AB.
7. Komplikasi Asma pada Kehamilan
Asma pada kehamilan yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan penurunan asupan oksigen ibu, sehingga berefek negative bagi janin. Asma tak terkontrol pada kehamilan menyebabkan komplikasi baik bagi ibu maupun janin (OSUMC, 2005).
·         Komplikasi asma pada kehamilan bagi ibu
Asma tak terkontrol dapat menyebabkan stres yang berlebihan bagi ibu. Komplikasi asma tak terkontrol bagi ibu termasuk :                
1) Preeklampsia (11%), ditandai dengan peningkatan tekanan darah, retensi air serta proteinuria;
 2) Hipertensi kehamilan, yaitu tekanan darah tinggi selama kehamilan;
 3) Hiperemesis gravidarum, ditandai dengan mual-mual, berat badan turun serta  ketidakseimbangan cairan dan elektrolit;
4) Perdarahan pervaginam Induksi kehamilan dan atau komplikasi kehamilan (OSUMC, 2005).
·         Komplikasi asma pada kehamilan bagi janin
Kekurangan oksigen ibu ke janin menyebabkan beberapa masalah kesehatan janin, termasuk :
1) Kematian perinatal;
2) IUGR (12 %) , gangguan perkembangan janin dalam rahim menyebabkan janin lebih kecil dari umur kehamilannya;
3) Kehamilan preterm (12 %);
4) Hipoksia neonatal, oksigen tidak adekuat bagi sel-sel;
5) Berat bayi lahir rendah

8. Akibat Penyakit Asma Bronkial Pada Ibu Hamil
        Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan, karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen atau hipoksia. Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin dan sering terjadi sbb: Keguguran,  Persalinan prematur, Pertumbuhan janin terhambat.

9.  Gejala Asma Bronchial Pada Ibu Hamil
·         Gejala asma bronchial adalah:
1. sesak napas,
2. napas berbunyi (mengi),
3. dan bentuk berdahak dengan reak yang berlebihan. Secara klasik didapatkan batuk,    sesak napas, mengi, banyak dahak pada saat serangan.
·         Gejala klinis asma bronchial
1) Mengi disertai dengan tanda-tanda adanya atopik lain yaitu atopik dermatitis, eksim, gatal-gatal, rhinitis alergika, polip hidung serta sensitife terhadap aspirin.         
 2) Pemeriksaan fisik: sesak, posisi pasien setengah duduk, pucat, sianosis, dan bernafas dengan menggunakan otot-otot assessor.                                                                  
 3) Pemeriksaan laboratorium:                                                                     
      Pemeriksaan analisis gas darah untuk mencari hypoxia, kadar co2 dan bikarbonat serta ada/tidaknya laktik asidosis.            
     Pemeriksaan lain yaitu pemeriksaan darah lengkap, igE, serum,         jumlah eosinofil darah tepid an lain-lain.               
      Pemeriksaan faal paru: pengukuran spirometri dan peak flow meter. Foto paru paru dan foto sinus

10. Tujuan utama pengobatan asma bronkial:
a. Bebas dari gejala asma bronkial sepanjang hari.
b. Pasien dapat tidur dengan nyenyak sepanjang malam.
c. Maksimalisasi faal paru.
d. Pasien dapat hidup normal.         
e. Tak perlu perawatan di unit gawat darurat                                                                                               
11 . Diagnosis Asma Bronkiale
1.       sesak nafas, batuk dan mengi.
2.       Serangan asma dapat timbul berulang-ulang dengan masa remisi diantaranya  Serangan dapat cepat hilang dengan pengobatan, tetapi kadang-kadang dapat pula menjadi kronik sehingga keluhan berlangsung terus menerus.
3.       Adanya riwayat asma sebelumnya, riwayat penyakit alergik seperti riniti alergik, dan keluarga yang menderita penyakit alergik, dapat memperkuat dugaan penyakit asma.                                                                                                              
D.      RANGKUMAN
Asma dalam kehamilan adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas terutama sel mast dan eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa sesak napas, dada terasa berat, dan batuk yang ditemukan pada wanita hamil.
Asma bronkiale merupakan penyakit obstruksi saluran nafas yang sering dijumpai pada kehamilan dan persalinan, diperkirakan 1%-4% wanita hamil menderita asma.
Factor Penyebab Timbulnya Asma Antara Lain Sebagai Berikut: zat-zat alergi, infeksi saluran nafas, pengaruh udara dan factor psikis.

F.       REFERENSI

                Mangunnegoro H, DSP, FCCP, Junus F,DSP,Ph.D, Soemanto DKS,DSP.1997.Asma
                Patogenesis Diagnosis dan Penataklaksanaan. Buku Pegangan Dokter: Jakarta
                Baratawidjaja, K. 1990.Asma Bronchiale dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam.
                Jakarta : FK UI.
                Crockett, A. 1997. Penanganan Asma dalam Penyakit Primer, Jakarta : Hipocrates.
                Guyton & Hall (1997) Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar